Literatur

Mengapa Orang Kristen Harus Membaca Literatur Kristen?

"Ah, males baca buku. Bikin pusing ajah! Bukannya sebagai orang Kristen sudah cukup kalau baca Alkitab saja?" Jawaban ini sering kali kita dengar ketika orang Kristen diajak untuk mulai membaca literatur-literatur Kristen. Terlebih lagi, di dalam jaman yang sangat padat dan sibuk ini, banyak orang yang menggunakan alasan kurangnya waktu untuk menghindarkan diri dari kegiatan membaca. Hal ini patut kita sayangkan, karena seharusnya setiap orang Kristen membaca buku-buku Kristen yang baik.

Allah mengwahyukan Firman-Nya melalui Alkitab, yang merupakan sebuah literatur. Karena itu, dalam kehidupan Kristen, seseorang tidak mungkin menghindarkan dirinya dari kegiatan membaca. Sering kali orang-orang yang mengelak untuk membaca buku-buku Kristen dan menambahkan alasan bahwa kita hanya perlu membaca Alkitab merupakan orang-orang yang jarang, atau bahkan tidak pernah membaca Alkitab.

Teologi Reformed Injili mengajarkan akan finalitas dan kecukupan dari Alkitab (Inggris: Finality and sufficiency of the Scripture). Kita percaya bahwa hanya Alkitab yang dapat menjadi dasar kehidupan Kristen yang sejati. Tidak ada siapapun yang boleh menambahkan atau mengurangi isi Alkitab. Tidak ada pengajaran-pengajaran dari manusia dan dunia ini yang boleh menempati posisi yang sama seperti Alkitab, yang merupakan otoritas tertinggi dalam hidup kita. 

Sayangnya, manusia telah jatuh di dalam dosa. Ketika kita membaca Alkitab, Firman Tuhan, kita seringkali meng-interpretasi ayat-ayat yang kita baca agar sesuai dengan kehendak kita, bukan kehendak Tuhan. Belum lagi kita hidup di dalam dunia Post-modern dan New Age yang dimana membuat cara pandang kita (Inggris: worldview) tidak lagi sesuai dengan Alkitab, melainkan sesuai dengan dunia yang berdosa ini. Kedua hal ini merupakan alasan-alasan dasar bagi orang Kristen untuk membaca buku.

Tentunya segala pembelajaran kita dan pembacaan akan buku-buku Kristen harus membawa kita ke dalam pengenalan akan Tuhan dan Firman-Nya yang tepat, agar kita boleh memiliki iman yang sejati dan hidup yang berkenan dihadapan-Nya. Karena itu, Departemen Literatur GRII Melbourne dengan anugerah Tuhan berkomitmen untuk hanya menyediakan buku-buku Kristen yang berbasis teologi Reformed Injili. Teologi Reformed Injili mengajak kita untuk kembali kepada Alkitab, setia kepada kebenaran Allah. Teologi Reformed Injili juga mengajak kita untuk memiliki hati yang terbakar, semangat yang berkobar-kobar untuk mengabarkan Injil, memuridkan segala bangsa, dan memperluas Kerajaan Allah.

Departemen Literatur GRII Melbourne membuka Perpustakaan dan Toko Buku setelah kebaktian I dan II. Perpustakaan menyediakan literatur-literatur yang baik untuk dipinjam oleh setiap jemaat. Kami memiliki koleksi buku-buku Reformed dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Mandarin yang membahas berbagai topik, dari teologi, kehidupan Kristen, sampai literatur anak-anak. Toko Buku menjual buku-buku terbitan Momentum, termasuk buku-buku karangan Pdt. Stephen Tong dan hamba Tuhan GRII lainnya. Kami juga bekerja sama dengan Koorong untuk menjual buku dalam bahasa Inggri dengan diskon 15%. Juga tersedia buletin Pilar setiap bulan-nya. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Franky (Perpustakaan, 04 300 38065) atau Chandra (Toko Buku, chandra.budiman@gmail.com)

Kiranya melalui pelayanan kami, setiap orang Kristen yang beribadah dan berkunjung di GRII Melbourne dapat bertumbuh dalam iman, untuk kemuliaan Tuhan saja. Amin.

Franky, Ketua Departemen Literatur


Merupa Hidup Dalam Rupa-Nya
Yohan Candawasa

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yg berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu,” Matius 5:39-40. Bagaimana seharusnya kita sebagai orang Kristen yang sejati menanggapi perkataan Kristus ini? Kalau pada saat ditampar, kita malahan membalas menampar, meninju bahkan menginjak-injak, tindakan kita itu menyiratkan tiga hal penting. Pertama, tindakan orang lainlah yang menentukan tindakan kita. Kedua, kita juga sama jahatnya atau bahkan lebih jahat dari mereka yang berlaku jahat pada kita. Dan ketiga, kita telah berpartisipasi dalam menumbuhkan kejahatan.

      Di dalam kehidupan kita sesama manusia, perilaku kita terhadap orang lain seharusnya tidak ditentukan oleh perlakuan mereka terhadap kita. Contohnya: saat orang berbuat baik kepada kita, barulah kita juga memperlakukan mereka dengan baik dan saat orang berbuat jahat kepada kita, kita pun berbuat jahat kepada mereka. Namun sayangnya bukan hal ini yang terjadi di kehidupan kita; yang ada: “Kalau kamu baik padaku, aku bisa lebih baik padamu, tetapi kalau kamu jahat padaku, aku bisa lebih jahat lagi padamu”.

      Saat kejahatan dibalas juga dengan kejahatan, maka kejahatan menang atas kita. Yesus Kristus tidak mengajar kita untuk membalas kejahatan dengan berdiam saja namun kepada tingkat yang lebih tinggi yaitu membalas kejahatan itu dengan kebaikan. Sesungguhnya, akan ada kemungkinan mengubah orang jahat menjadi baik saat kita membalas kejatana dengan kebaikan. Andaikan kita gagal pun, paling tidak masih seimbang – ada satu orang baik dan satu orang jahat.

      Begitu banyak hal yang bisa kita pelajari dari buku yang ditulis oleh Pdt. Yohan Candawasa ini, bagaimana merupa hidup kita di dalam rupanya Tuhan sendiri. Kenonsis Kristus yang dibahas di buku ini juga boleh sekali lagi mengingatkan kita untuk hidup sesuai teladanNya seperti yang tertulis di dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi (2:4-8) di mana Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusaa.

      Kiranya kita boleh terus memperlengkapi diri kita dengan setia merenungkan FirmanNya siang dan malam sehingga kita pun boleh dipersiapkan menjadi alat untuk kemuliaan Tuhan semata. Soli Deo Gloria.

Pemuda & Krisis Zaman -  Pdt. D.R. Stephen Tong

O ye hypocrites, ye can discern the face of the sky; but can ye not discern the signs of the times?

Matthew 16: 3b

Dalam dunia yang penuh polemik dan fenomena ini, seringkali pemuda pemudi terlena dan tidak menyadari potensi maupun krisis zaman. Waktu adalah suatu properti yang meski dipakai ataupun tidak, ia akan terus berjalan. Kenyataan ini bisa menjadi sangat mengerikan apabila manusia tidak peka, larut dalam kenikmatannya dan tidak mulai memakai ‘kesempatan’. Buku ini mengupas tanggungjawab pemuda pemudi Kristen di tengah zaman modern yang serba cepat ini; bagaimana kita boleh mengerti rencana Allah atas zaman dan menjadi seorang penantang zaman. Panggilan kita bukanlah berusaha mengembalikan dunia kepada waktu Yesus baru dilahirkan, ataupun mencoba menyesuaikan keKristenan dengan zaman kontemporer, tapi bagaimana kita dapat menegakkan identitas diri sebagai orang Kristen secara benar dan mempermuliakan Allah dalam zaman di mana kita tinggal. Jadi, bagaimana kita memulainya?

Siapakah Kristus? - Pdt. DR. Stephen Tong

He saith unto them, “But whom said ye that I am?”

And Simon Peter answered and said, “Thou art the Christ, the Son of the living God.”

Matthew 16:15-16

Pengertian yang benar akan sosok dan karya Kristus bagi umat percaya adalah suatu kewajiban. Namun seringkali orang hanya berhenti pada deklarasi Kristus sebagai Anak Allah yang menebus dosa manusia tanpa menggali makna dari semua itu. Lewat buku ini, Pdt. D.R. Stephen Tong membawa pembacanya memikirkan lebih lagi tentang pribadi Yesus. Bagaimana seseorang bisa percaya akan keberadaanNya? Apabila seseorang mengaku beragama Kristen, mengapa tidak memilih agama yang lain? Mengapakah orang Timur percaya kepada Kristus yang adalah orang Barat? Pemahaman akan Kristus yang sejati dapat menjawab semua pergumulan ini. Kristus yang adalah titik pusat dari alam semesta, Logos sejati, serta satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup. KehadiranNya menyatakan cinta kasih Tuhan dan memberikan pengharapan yang terus ditunggu oleh manusia. Semoga kebenaran dalam buku ini dapat membuka pikiran Saudara dan kita boleh dikuatkan untuk terus hidup bagi Dia!

 

7 Perkataan Salib - Pdt. DR Stephen Tong

Sungguh unik tema yg diangkat dari buku ini; satu ringkasan dari 7 perkataan yang Yesus sendiri ucapkan saat berada di atas kayu salib.  Akan kita temukan bahwa hanya dari 7 kalimat tsb, terdapat makna dan impact sangat besar, jauh dari apa yg kita mengerti. Semakin kita membaca dan menggali, semakin kita boleh memahami akan karakter Kristus (walaupun tidak mungkin sepenuhnya). Sebagai contoh, perkataan “Aku Haus!” mungkin tampai sebagai kalimat yg aneh untuk diucapkan Anak Allah di atas kayu salib. Apa maksudnya? Bagaimana perkataan-perkataan ini menggenapi segala yg tertulis tentang Kristus dalam perjanjian lama? Ambillah sejenak waktu untuk merenungkan kembali kisah salib Tuhan Yesus, yg sampai kepada perkataan di detik-detik terakhir hidupNya, Ia masih terus menunjukkan ketaatan kepada Bapa dan menggenapi kehendakNya. Worthy is the Lamb!

Review oleh Sally Danayani - 23 May 2010

Buku-buku di atas tersedia di Perpustakaan GRII Melbourne


The Christ-Centered Church: Creating fearless, Spirit-filled followers of Christ.
A.W. Tozer

Buku ini bisa dibilang adalah kritikan Tozer (1897-1963) terhadap gereja-gereja yang ada, bukan saja di waktu Tozer, tapi sampai sekarang ini. Dan ini kenyataannya betul. Karena ketika aku lagi baca, aku bisa manggut-manggut. Relevan banget sama waktu ini dan sama apa yang suka kita liat di gereja-gereja di sekitar kita.

 Ada satu waktu dia dijadwalkan untuk berkotbah di sebuah gereja yang dikenal orang sebagai "Holiness church". Pada waktu itu mereka sedang mengadakan suatu perayaan selamatan atau semacam ulang tahun gereja, dan sebelum waktunya Tozer berkotbah, para jemaat mengadakan segala macam kegiatan yang 'berisik' dan penuh tawa. Tozer memperhatikan dan menunggu dengan sabar. Begitu dia naik ke panggung untuk berkotbah, kata-kata pertamanya adalah, "What has happened to you, the Holiness people?". Scrapping his prepared sermon, he took the congregation to the "spiritual woodshed" in a way they had never experienced before. To Tozer the church was not a place to be silly and act crazy. It was the place and time to cultivate the presence of Christ.
 
Lalu di waktu lain, dia mengkritik satu terjemahan Alkitab modern dengan mengatakan: "Reading that translation gave me the same feeling as I would get by shaving with a banana."
 
Sepanjang buku ini, Tozer membahas masalah bagaimana gereja-gereja sudah banyak mengadopsi metode dunia untuk mencapai tujuan yang dibilang tujuan Tuhan. Dia kasih contoh 3 metodenya: the methods of big business; of showbusiness; and of Madison Avenue advertisers. Dan dia juga membahas aspek-aspek/gejala-gejala lainnya yang dia temukan di gereja-gereja Injili. Tozer memperingatkan kita akan bahaya "mempermainkan kata-kata rohani".
 
In this book, Tozer calls for a real examination of our hearts. Some people simply play at religion, play at church and don't really experience what God has for them. 
 
Di dalam chapter "The characteristics of a carnal Christian", dia mengatakan di dalam gereja ada 4 golongan orang: 
1) The average church people who come all the time but never converted. When they come, they seem to enjoy it and they have friends among the Christian people but they themselves have never passed from death unto life.
2) Those who are trained to be Christians but are not. They appear to be Christians because they have learned the language, and they are able to perform certain things, giving everybody the impressions that they are in fact Christians. Usually, they can be found in charge of all the activities of the local church.
3) There are true Christians, but they are carnal. They have never developed into mature, functioning Christians.
4) Thankfully, there are those who are true Christians, and they are spiritual. Unfortunately, they seem to be in the minority in most churches.
 
Review oleh Elisa Soerjono - 24 May 2010
 
Tersedia di Toko Buku GRII Melbourne

 Buku-buku baru dari Penerbit Momentum

"Buku ini adalah karya dari satu tim sarjana.... Keuntungan penuh diambil dari penyelidikan- penyelidikan tentang Calvin yang sudah berkembang sekarang ini, dan yang telah memberi kontribusi besar dalam banyak bidang. more

"Dangkalnya kerohanian yang terjadi saat ini disebabkan dangkalnya pemahaman kita terhadap dosa. Kaum Puritan memandang Allah di dalam segenap kekudusan, keagungan, otoritas, kedaulatan, dan kuasa-Nya sehingga memahami betapa berdosa, cemar dan liciknya hati manusia. more "Banyak yang akan merasa sulit untuk 'masuk' kedalam pemikiran seseorang yang begitu serius memperhatikan perihal kekudusan Allah dan dosa seperti Owen, kerena relativitas moral dan pembalikan nilai-nilai yang menjadi ciri masyarakat yang permisif pada saat ini telah mencemari gereja. more "Tulisan rohani otobiografis ini mengajak kita untuk melihat perjalanan iman john bunyan, yang telah begitu dikenal dengan karyanya the pilgrim progress, dari masa mudanya sampai kepada pertobatannya more

Tersedia di toko buku setelah kebaktian


Goldsworthy Trilogy: Gospel & Kingdom, Gospel & Wisdom, The Gospel in Revelation
Graeme Goldsworthy

Dalam buku ini terdapat 3 buku klasik, Gospel & Kingdom, Gospel & Wisdom, dan The Gospel in Revelation, yang akan menuntun kita mengerti keseluruhan Alkitab: keutuhan dan kekayaannya, di dalam terang Injil Kristus. Seperti Goldsworthy katakan: "Evangelical biblical theology is gospel-centered and therefore Christological."

Gospel & Kingdom memaparkan tentang Kerajaan Allah (istilah Perjanjian Baru) yang diwahyukan sejak taman Eden sampai Kristus lahir ke dunia. Berbagai pertanyaan dibahas: Apa yang dimaksud dengan Injil? Apa hubungannya dengan Kerajaan Allah? Siapa warga Kerajaan Allah? Di mana Kerajaan Allah? Kapan Kerajaan Allah tiba?

Gospel in Revelation menjawab pertanyaan: Mengapa ada penderitaan yang sama seperti orang-orang dunia bagi anak-anak Tuhan. Ini menjadi kunci Injil terhadap wahyu Allah. Di bagian kedua juga membahas tentang Justification by Faith in Revelation; perspektif Alkitab memandang akhir jaman dan apa efeknya terhadap kita orang Kristen. Apa yang dimaksud sebagai bumi dan langit baru?

Bagian terakhir Gospel & Wisdom membawa kita melihat siapa sumber wisdom itu? Apa itu wisdom? Pandangan dunia vs Alkitab tentang wisdom dari Daud, Pengkotbah, Amsal, dan Ayub. Bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan mendapatkan wisdom dan untuk apakah semua itu?

Buku pendekatan Biblical Theology ini akan membantu kita mengerti bagaimana keseluruhan Alkitab dapat saling terkait secara bersamaan, dan sangat dekat relevan bagi kita di jaman ini.

[Review oleh Denny Chandra, 16 Februari 2010 - tersedia di Toko Buku dengan harga $9.95 (diskon 15%)]

 


Hidup Kristen yang Berbuah
Pdt. Dr. Stephen Tong

---
Halo teman-teman semua, 
Pada kesempatan kali ini saya ingin share tentang satu buku yang pernah saya baca. Yaitu: Hidup Kristen yang Berbuah oleh Pak Tong.
Buku ini sangat berkesan buat saya, karena buku ini menceritakan bagaimana dan mengapa hidup orang Kristen harus berbuah. Sebagai orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus, tentu kita mau dong untuk hidup berbuah sebagaimana Kristus menganjurkan kita utk berbuah banyak. Berikut saya sertakan resensi buku ini yang pernah saya tulis untuk majalah Pillar di tahun 2006.

Buku ini tersedia di perpustakaan dan juga mejatokobuku. Dijual dengan harga $4.

Salam,
Toni
---

Buku Hidup Kristen Yang Berbuah merupakan buah karya Pak Stephen Tong yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia pada tahun 1992. Buku ini membahas antara lain pengertian mendasar mengapa orang Kristen harus berbuah, rahasia hidup berbuah, buah-buah orang Kristen, buah roh kudus dan buah injil. Buku ini sangat bagus untuk dibaca dan mudah dimengerti serta dapat memberi dorongan bagi banyak orang Kristen untuk terus dan semakin berbuah dalam hidupnya.

Berapa banyakkah orang Kristen di dunia ini yang tidak berbuah? Alangkah kecewanya pada waktu Tuhan berkata, “Bukankah yang Kutanam adalah anggur yang manis, mengapa menghasilkan buah yang asam?” Mengapa orang Kristen harus berbuah? Alasannya adalah karena berbuah menunjukkan tanda kehidupan, pertumbuhan dan kematangan. Allah menyelamatkan seseorang dengan tujuan agar orang tersebut berbuah. Ini merupakan suatu tanda perbedaan antara ciptaan manusia dan Allah. Yang dibuat oleh manusia tak dapat berbuah, yang dibuat oleh Allah dapat dan harus berbuah. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:17).

Setelah kita mengerti mengapa kita harus berbuah, kita perlu mengerti apakah rahasia orang Kristen bisa berbuah dengan lebat. Kunci pertama adalah orang tersebut harus dipenuhi oleh Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus tidak ada orang yang sungguh-sungguh bisa hidup suci, memiliki buah yang sungguh-sungguh. Setelah orang Kristen diselamatkan dan memiliki Roh Kudus di dalam dirinya, bagaimanakah sikap orang Kristen seharusnya untuk tetap berbuah dalam hidupnya?

Ada beberapa prinsip penting bagi orang Kristen untuk tetap berbuah dalam hidupnya. Salah satunya adalah “senantiasa berada dalam Tuhan”. Kunci dari prinsip ini adalah pada kata senantiasa. Orang Kristen harus memelihara kontinuitas untuk tetap berada di dalam Tuhan, bukan kadang-kadang. Ini adalah hal yang sangat sulit bagi pemuda-pemudi  yang melayani Tuhan. Lebih mudah memulai pelayanan bagi Tuhan daripada memelihara kontinuitas pelayanan. Lebih mudah mati bagi Tuhan daripada hidup setengah mati berkerja berpuluh-puluh tahun dalam dunia. Prinsip yang kedua adalah “suci di dalam Firman”. Bagaimanakah kita dapat hidup suci? Kita dapat hidup suci jika kita mau untuk terus menerus dikoreksi oleh Firman Tuhan yang suci dan mau membiarkan Firman yang suci tersebut bekerja di dalam hati. Yang penting adalah kesungguhan dalam hati untuk mau hidup suci dan kerendahan hati untuk mau menerima dan melaksanakan firman yang suci dalam hidup kita.

Apakah buah orang Kristen? Beberapa buah yang harus kelihatan muncul dari orang Kristen adalah: buah terang, buah kebenaran/keadilan dan buah bibir. Ada tiga buah terang: kebajikan, keadilan dan kebenaran. Sikap sebagai anak terang adalah jangan berpura-pura, rela menerima kritik dan koreksi atas kesalahan yang diperbuat. Amsal 3:27-28 mengajarkan bahwa jika kita mampu, hendaklah kita membagi-bagikan milik kita kepada mereka yang memerlukan. Dengan ucapan bibir, kita senantiasa memuliakan nama-Nya (Ibrani 13:15). Martin Luther mengatakan, “There’s no why in the heart of believers.” Pada waktu susah maupun senang kita hendaknya memuliakan Tuhan melalui buah bibir kita.

Untuk mengerti apakah buah Roh Kudus, penulis juga mengontraskan dengan buah kedagingan. “Perbuatan daging telah nyata yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, pencideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-20)”. Buah kedagingan menghalangi orang Kristen untuk berbuah roh. Percabulan, kemarahan, iri hati dan egoisme adalah benar-benar sesuatu yang sangat berbahaya bagi orang Kristen dan harus dihindari supaya ia dapat berbuah roh.

Apakah buah roh itu? Paulus mengatakan, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal itu (Galatia 5:22)”. Segala sesuatunya adalah dari Tuhan saja. Oleh sebab itu kita sepatutnya rendah hati dan taat kepada Tuhan saja. Janganlah sombong kalau Anda mencintai Tuhan, janganlah mengambil kemuliaan kalau Anda bisa mengasihi orang lain, karena itu adalah buah dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri Anda. Yesus Kristus berkata, "Berbuahlah banyak supaya Bapa-Ku dipermuliakan." Buah adalah milik Tuhan, tetapi berbuah adalah kewajiban kita.

Akhir kata dari resensi ini adalah suatu pertanyaan yang mendasar, “Sudahkah kita sebagai orang Kristen berbuah roh seperti yang dikehendaki oleh Bapa kita di sorga? Maukah kita dibentuk oleh Tuhan seperti ranting-ranting pohon anggur dan berbuah lebat dengan Tuhan Yesus sebagai pokok anggurnya? Jikalau kita mau dan dengan rendah hati mau dibentuk oleh Tuhan, maka buku ini dapat memberikan suatu arahan untuk dapat berbuah roh secara efektif sebagai mana seharusnya.

[8 Februari 2010]