Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Penghakiman Kristus

Ibadah

Penghakiman Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 5 Maret 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 3:17-21

Ada satu ilustrasi yang menggambarkan realita baik orang yang tidak diselamatkan pada ayat 19 sampai 20 -- “…dan inilah penghakiman itu: terang telah datang didalam dunia tetapi manusia lebih mencintai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang da tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak…” -- maupun orang yang diselamatkan pada ayat 21: “tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan didalam Allah.”: Ilustrasi ini menceritakan ada 2 orang naik mobil dari Jakarta ke Bandung, yang satu naik tol dan yang satu lagi tidak naik tol dan kemudian kedua orang tersebut tabrakan. Keduanya sudah hampir mati. Yang satu tidak ada yang menolong dan kemudian ia mati, dan yang satu lagi ada dokter yang lewat disitu dan kemudian dokter itu memberi pertolongan pertama sehingga orang itu tidak jadi mati. Dari ilustrasi ini ada dua kesimplan yang bisa ditarik. Pertama, orang  tidak jadi mati karena ada dokter yang menolong. Kedua, orang yang satu lagi mati bukan karena tidak ada dokter yang menolong, tetapi karena kecelakaan. Kesimpulan ini sebenarnya juga menggambarkan realita orang yang tidak diselamatkan maupun yang diselamatkan.

Ketika Kristus datang kedalam dunia ada semacam penghakiman yang terjadi, dimana Kristus menyatakan bahwa kesalahan manusia yang tidak percaya kepada Kristus adalah terletak pada hati manusia yang sudah jatuh didalam dosa. Tetapi, kalau seseorang boleh percaya dan memperoleh hidup yang kekal, itu karena anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita. Dengan kata lain, jika orang-orang tidak datang kepada Kristus dan kemudian binasa, maka kita akan memuji keadilan Allah. Tetapi jika kita datang kepada Kristus dan mendapat hidup yang kekal, maka kita memuji anugerah Allah. Inilah kesimpulan akan ayat-ayat yang kita akan renungkan pada hari ini.

Kesimpulan ini didasarkan kepada exegesis (ex: keluar). Exegesis adalah mengerti Alkitab mempelajari didalam konteksnya didalam bahasa aslinya, dan didalam sejarahnya dan kemudian menarik keluar (ex) berita itu. Kemudian berita itu dipaparkan didalam khotbah. Exegesis dikontraskan dengan eisegesis. Eisegesis adalah memasukan pengertian/konsep yang sudah ada didalam pikiran kita sendiri kedalam Alkitab; kita memaksakan Alkitab untuk mengatakan hal yang sesuai dengan pikiran kita (misalnya, kita memasukan pengertian kasih menurut kita sendiri didalam ayat Alkitab untuk melegitimasi pengertian kasih tersebut). Sekarang kita akan melihat bagaimana kesimpulan diatas diambil berdasarkan eksegesis.

Pertama, kita melihat konteks dari ayat 19-21 melalui pengertian konteks ayat sebelumnya (ayat 16-18). “karena begitu besar kasih Allah akan dunia [yang berdosa] ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya  yang tunggal…”. Dia mengaruniakan Anak-Nya datang kedalam dunia, dari surga diutus datang untuk mati menebus dosa kita. Mengapa kita bisa mengatakan kalau Kristus mati? Karena ayat 14 mengatakan “…seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.”. Seperti Musa meninggikan ular diatas tiang, demikian Kristus ditinggikan diatas tiang salib. Disitulah manusia boleh diselamatkan. Kristus datang diutus oleh Bapa di surga untuk mati diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Inilah gambaran kasih Allah yang besar, karena Ia pertama-tama mengutus Anak-Nya yang tunggal; Allah bukan mengirim domba, kambing, atau mengirim apapun untuk mati menggantikan kita. Allah mengirim Anak-Nya yang tunggal. Allah tidak menyalibkan musuh-Nya, tetapi Ia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal. Kitab Roma mengatakan: “Ia,  yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tapi yang menyerahkan-Nya bagi kita…” (Roma 8:32).

Alasan kedua mengapa kasih Allah begitu besar adalah kematian Kristus membuka pintu bagi semua orang, sehingga “…setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Alasan ketiga, kita bisa memperoleh hidup yang kekal hanya dengan percaya saja. Kita pertama-tama tidak dituntut untuk berbuat baik. Perbuatan baik akan datang kemudian; hal yang memampukan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik adalah pertama-tama anugerah Tuhan didalam Kristus yang diberikan melalui kematian Kristus bagi kita, dan kita menerima anugerah yang besar itu dengan percaya saja. Kemudian ketika kita percaya, hidup kita harus berubah.

Perbuatan-perbuatan baik bukanlah syarat untuk mendapat hidup yang kekal tetapi adalah bukti bahwa kita sudah mendapat hidup ang kekal. (Jadi, inilah bukti kasih Allah yang begitu besar: Allah mengorbankan sesuatu yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, untuk menghasilkan kebaikan yang tak terhingga bagi kita yaitu hidup yang kekal, dan hal ini diberikan secara cuma-cuma; tidak ada perbuatan baik apapun yang membuat kita menerima kehidupan yang kekal, kita hanya percaya saja untuk menerima anugerah Tuhan didalam Kristus.) Oleh sebab itu, inilah the greatest news yang ditekankan di ayat 16 dan ditegaskan didalam ayat 17. Ayat 17 mengatakan “ sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”. Kedua ayat ini menunjukan bahwa Allah ingin manusia percaya kepada-Nya dan boleh diselamatkan, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. 

Kemudian, ayat 18 mengatakan kalimat yang [bernuansa] sedikit berbeda: “barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan dihukum; barang siapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”. [Sebenarnya nuansa tersebut] sudah ada di ayat 16 secara implisit: setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, berarti kalau seseorang tidak percaya orang itu akan binasa. Di dalam ayat 18, bagian tentang orang yang tidak percaya akan dipaparkan dengan lebih jelas. Jadi, ayat 18 memberi sesuatu yang eksplisit daripada sesuatu yang implisit didalam ayat 16 tentang orang yang tidak percaya. Tetapi apa bedanya antara ayat 16 dan 18? Ayat 18 tidak berbicara tentang binasa, tidak binasa, dan tentang hidup yang kekal, melainkan berbicara tentang hukum dan tidak dihukum. Sekarang rasul Yohanes pada ayat 18 memakai bahasa legal, yang sebenarnya sudah dimulai di ayat 17.

Pernyataan di ayat 17 sebenarnya menimbulkan pertanyaan: jika Yesus datang bukan untuk menghakimi dunia, mengapa sebagian orang dihukum? Kunci untuk menjawab pertanyaan ini adalah kata “telah” pada ayat ke 18. Ayat ke 36 juga menegaskan poin yang sama: “barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal. Tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”. Ini berarti murka Allah sudah ada, dan murka Allah tetap ada kalau seseorang tidak percaya. Hal ini menunjuk kepada prinsip yang penting untuk mengerti karya keselamatan Kristus: Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia yang netral (tidak baik/tidak jahat), melainkan dunia yang berdosa, dunia yang dibawah hukuman Allah, patut dimurkai oleh Allah yang adil. Kristus bukan datang kedalam dunia yang bisa memilih baik/jahat, melainkan kedalam dunia yang jahat. Sehingga ketika Kristus datang kedalam dunia, Ia mau menyelamatkan dunia yang berdosa yang melawan Tuhan dengan kasih-Nya dan anugerah-Nya yang besar. Kalau Yesus Kristus datang untuk menghakimi dunia dengan keadilan-Nya,maka sesungguhnya habislah setiap daripada kita; tidak ada orang yang diselamatkan karena semua orang adalah orang yang berdosa.

Tetapi puji Tuhan bahwa Allah mengutus anak-Nya yang Tunggal bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya dengan cara mati di atas kayu salib. Karena itu, Tuhan memanggil kita untuk percaya kepada Kristus supaya kita tidak perlu menerima murka Allah atas manusia yang berdosa. Bagi orang yang percaya kepada Kristus, keadilan Allah atas kita sudah dinyatakan di atas kayu salib; ketika percaya dan kemudian dipersatukan bersama Kristus, maka keadilan Allah dinyatakan disitu. Sehingga 1 Yohanes 1:9 mengatakan kalau kita beriman kepada Kristus dan mengaku dosa kita “…maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.

Pertobatan kita adalah pertobatan melalui iman di dalam Kristus, dipersatukan dengan Kristus, maka bagi setiap orang  yang mengaku dosanya didalam Kristus maka keadilan Allah telah dinyatakan. Allah adalah Allah yang adil yang tidak bisa kompromi dengan dosa, maka ketika kita beriman kepada Dia dan mengaku dosa kita, maka Allah yang adil itu akan mengampuni dosa kita dan menyucikan dari segala kejahatan karena keadilan-Nya sudah dinyatakan didalam Kristus; murka Allah kepada manusia berdosa ditimpakan kepada Kristus, dinyatakan diatas kayu salib. Sehingga setiap kita yang berlindung di salib Kristus setiap kita yang percaya beriman kepada Dia, maka keadilan Allah sudah dinyatakan didalam Kristus. Sehingga kita tidak lagi menerima murka Allah melainkan kita boleh diselamatkan.

Tetapi celakalah orang yang tidak percaya kepada Kristus dan tidak mengakui dosanya di dalam Kristus, karena keadilan Allah akan dinyatakan kepada dia yaitu ketika ia binasa dan mendapat penghakiman Allah yang adil. Penekanan pada ayat 16 dan 17 adalah supaya kita boleh percaya kepada Kristus, karena disitulah satu-satunya akan jalan keadilan Allah boleh tidak kita alami secara langsung; keadilan Allah itu dinyatakan di dalam Kristus, Kristuslah yang menanggung murka dari Allah.

Meskipun tujuan kedatangan Kristus kedalam dunia bukan untuk menghakimi, tetapi kedatangan-Nya juga membongkar kekerasan hati seseorang yang tidak mau percaya kepada Kristus. Hal inilah yang mau ditegaskan di ayat 19 sampai ayat 20, bahwa kedatangan Kristus juga mendatangkan semacam penghakiman. Ketika kita memberitakan injil, kita bukan bertujuan untuk menghakimi orang; tujuan utama kita dalam memberitakan injil adalah memberitakan kabar baik. Tetapi pada saat yang bersamaan, didalam berita injil itu tetap terjadi penghakiman. Injil memberitakan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, mengajak orang untuk percaya kepada Kristus supaya orang tersebut tidak binasa. Tetapi, hal ini juga berarti bahwa kalau orang tersebut tidak percaya orang itu akan binasa.

Di ayat-ayat ini rasul Yohanes mau membongkar hati orang yang tidak percaya kepada Kristus, bahwa orang yang menolak injil justru mempertegas dosa mereka yang memang layak untuk menerima murka Allah. Inilah penghakiman yang terjadi. Rasul Paulus mengatakan bahwa injil yang ia beritakan adalah bau yang harum bagi mereka yang akan diselamatkan, tetapi injil yang sama itu adalah bau kematian yang akan binasa (2 Korintus 2:16). Seorang teolog mengatakan sinar matahari yang bersinar dengan teriknya akan melelehkan mentega tapi sekaligus akan mengeraskan semen.

Kristus menjelaskan di ayat 19 dan 20 mengapa sebagian orang percaya dan sebagian orang tidak percaya. Ada 5 hal mengapa orang menolak Kristus:

  • Pertama, manusia lebih mencintai kegelapan daripada terang. Setiap manusia memliki sesuatu yang paling ia cintai dimana seluruh hati, pikiran, energi  ditujukan  kepada sesuatu itu. Disini Yesus berkata bahwa orang-orang yang tidak percaya itu, didalam hati mereka yang paling dalam, mencintai kegelapan.
  • Hal kedua, mengapa mereka mencintai kegelapan? Karena orang-orang ini melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Disini pengertian jahat tidak selalu diartikan dengan membunuh, mencuri, atapun melakukan kejahatan yang pada umumnya kita pikir. Kejahatan disini juga berarti mencintai apapun yang menggantikan tempat Kristus. Kristus mengatakan bahwa hukum yang terutama adalah cintailah Tuhan Allah mu dengan seluruh hati, kekuatan, akal budi, dan jiwa. Jadi mencintai sesuatu yang lain (termasuk mencintai hal yang baik pada dirinya sendiri seperti suami, isteri, uang, saudara, orang tua, kesuksesan) dan menempatkannya di tempat yang utama menggantikan Kristus, adalah satu kejahatan di hadapan Allah. Karena itu Tuhan Yesus berkata kalau kita mengasihi orang-orang yang paling dekat dengan kita lebih daripada kita mengasihi Kristus, kita tidak layak mengikut Dia. Kita tidak pernah diperintahkan mengasihi saudara kita dengan seluruh hati, jiwa, dan akal budi kita; kita diperintahkan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.
  • Hal ketiga, karena perbuatan mereka jahat, mereka tidak mau datang kepada terang karena tidak mau perbuatan jahat mereka dibongkar (ayat 20).
  • Oleh sebab itu, halk keempat, mereka membenci terang karena mereka mencintai kegelapan.
  • Hal kelima, dan karena itu mereka tidak datang kepada terang .

Jadi persoalan tidak percaya kepada Kristus bukan masalah intelektual saja, tetapi masalah hati yang lebih mencintai kegelapan, membenci terang, dan tidak datang kepada terang supaya dosa-dosanya tidak nampak. Bukan berarti orang seperti ini tidak melakukan dosanya secara terbuka; ada begitu banyak orang yang bangga akan dosanya (dosa: melawan akan firman Tuhan). Tetapi mengapa mereka berani melakukan dosa secara terbuka? Karena lingkungan dimana orang ini hidup (dimana ia menyatakan akan dosanya itu) adalah lingkungan yang tidak ada Kristus; lingkungan dimana Kristus dijauhkan. Jadi orang tersebut menyatakan dosanya di dalam kegelapan, bukan di dalam terang.

Kristus datang ke dalam lingkungan seperti ini, bahkan di dalam gereja seperti ini ketika firman Tuhan menembus hati manusia, seperti yang terjadi ketika Jonathan Edward berkhotbah tentang Sinner in the Hand of an Angry God. Meskipun Jonathan Edward berkhotbah dengan membaca, para pendengar gemetar karena ketakukan terhadap murka Allah. Salah satu kalimat yang menggetarkan adalah: “Jangan pikir engkau orang berdosa yang aman, yang bisa berdosa dengan tenang; engkau adalah orang yang belum binasa sekarang karena Tuhan masih memberi kesempatan kepada engkau. Tetapi sebentar lagi, kalau engkau tidak bertobat, Tuhan akan melepas engkau ke neraka. Tuhan memegang engkau seperti seorang gadis kecil yang memegang laba-laba ditepi jurang; gadis kecil itu jijik sekali kepada laba-laba itu, dia ingin lepaskan laba-laba itu ke jurang tetapi ia terus pegang, sampai pada satu waktu yang singkat [karena tidak tahan akan rasa jijik tersebut] dia lepaskan laba-laba itu ke jurang.”. Belum selesai ia berkhotbah, orang-orang pun bertobat pada KKR itu dan terjadi kebangunan di kota itu; tempat-tempat perjudian dan pelacuran ditutup, orang-orang tidak lagi pergi ke night club.

Ketika Kristus datang membongkar dosa manusia, manusia tidak bisa tidak berespon. Ada yang sadar akan dosanya dan kembali kepada Krsitus. Tetapi ada orang-orang yang tetap mengeraskan hatinya; mereka akan lari dari terang dan masuk kegelapan yang lebih kelam. Inilah penghakiman yang terjadi, dimana Tuhan menyatakan hal apa yang terjadi pada hati orang-orang yang tidak percaya. 

Bagaimana dengan orang-orang yang percaya? Ini dijelaskan pada ayat ke 21: “tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam terang.”. Bagian terakhir ini memberi suatu perspektif yang radikal bagi seluruh bagian sebelumnya. Orang yang melakukan perbuatan benar datang kepada terang supaya nyata perbuatan-perbuatanya dilakukan didalam Allah. Perbuatan benar disini bukan menunjuk kepada satu kali perbuatan benar, tetapi tentang seseorang yang hidup di dalam kebenaran. Perbuatan baik yang dilakukan di dalam Allah artinya  perbuatan baiknya dilakukan di dalam kuasa/anugerah Allah. Inilah kerinduan yang terdalam bagi orang yang percaya kepada Kristus: supaya nyata bahwa semua perbuatan yang benar dilakukan bukan karena kekuatan, kehebatan, usaha, dan perjuangan orang itu sendiri, tetapi hanya di dalam kekuatan yang Tuhan berikan. Inilah perbedaan yang mendasar antara orang yang mencintai kegelapan dengan orang-orang yang datang kepada terang; ia tidak ingin menyatakan kehebatan dirinya, tetapi sadar bahwa dia ada karena anugerah Tuhan.

Sejalan dengan kesimpulan yang sudah disebutkan di atas, kesalahan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus terletak pada hati manusia; yaitu hati manusia yang mencintai kegelapan dan membenci terang. Tetapi kalau kita boleh percaya kepada Kristus itu terletak pada anugerah Tuhan. Sehingga seluruh kebaikan yang diperbuat oleh orang yang percaya terjadi bukan karena kehebatan orang tersebut, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan. Orang tersebut melakukan perbuatan-perbuatan baik itu di dalam Allah.

Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan semakin sadar akan betapa besar anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Tetapi, kalau ada diantara saudara yang belum percaya, hanya akan ada dua respon ketika injil diberitakan: pertama, kita percaya, sadar akan dosa kita, dan datang kepada Tuhan memohon anugerah dan pengampunan dari Tuhan. Respon kedua adalah semakin mengeraskan hati, semakin menolak Kristus dan orang ini akan masuk lebih jauh didalam kegelapan; disini semakin nyata bahwa orang ini mencintai kegelapan dan bukan mencintai terang.

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak membenci terang, mereka tidak membenci Kristus, mereka hanya tidak mau percaya/peduli saja. Namun hal ini tidak mungkin karena dunia yang Kristus datangi bukan dunia yang netral dan Ia datang untuk memberitakan berita yang tidak netral; Ia mengatakan bahwa Ialah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup; tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui-Nya. Kalau kita mengatakan bahwa kita tidak peduli, Kristus akan mengatakan bahwa kita adalah orang yang membenci terang karena Kristus adalah terang itu dan kita tidak menerima dia. Dihadapan Tuhan tidak ada orang yang netral. Dihadapan Tuhan hanya terjadi 2 hal: apakah kita seperti mentega yang hatinya lembut ketika sinar matahari itu bersinar ataukah kita seperti semen yang ketika sinar matahari bersinar hati kita menjadi keras dan akan makin menjauh dari Kristus. Setiap kita harus berespon kepada Kristus karena kita pun juga orang yang tidak netral; setiap kita adalah orang berdosa yang dimana murka Allah sudah ada diatas kita, orang yang ada di dalam kegelapan. Tetapi Kristus datang untuk menyatakan berita baik: percaya kepada-Nya sehingga kita tidak dihukum dan akan menerima hidup yang kekal.

Biarlah kita menjadi orang yang datang kepada terang supaya nyata bahwa perbuatan baik yang kita lakukan bukan karena kehebatan kita tetapi semata-mata didalam kekuatan yang Tuhan berikan, sehingga kita boleh menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan yang memuliakan nama Tuhan.

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya