Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tinggallah di dalam Kasih-Ku

Ibadah

Tinggallah di dalam Kasih-Ku

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 14 Oktober 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 15:9-17

Kita akan merenungkan salah satu arti dari “Tinggal di dalam Kristus”. Sebelumnya dalam ayat Yoh 15:4 Yesus mengatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Secara khusus Yoh 15:9-11 mengatakan “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”  Di sini kita menemukan suatu arti dari “Tinggal di dalam Kristus” yaitu kita tinggal di dalam kasih Kristus, seperti yang berkali-kali dinyatakan dalam ayat-ayat di atas.

Ada tiga kebenaran tentang kita tinggal di dalam kasih Kristus:

1. Kasih Kristus kepada Kita adalah sama seperti kasih Bapa kepada Kristus

Yang pertama adalah kasih Kristus kepada kita adalah sama seperti kasih Bapa mengasihi Kristus.

Yoh 15:9 menyatakan hal ini dengan tegas.” Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Ini adalah sangat jelas, tetapi kita harus mengerti bahwa Kristus mengasihi kita itu sama seperti Bapa mengasihi Kristus. Ini adalah kebenaran yang begitu mengagumkan kita, kebenaran yang akan memberikan suka cita dan syukur kepada kita.

Mulai Yoh 1:1 dikatakan “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.“ Firman itu bersama-sama dengan Allah mempunyai pengertian Firman itu in the presence of God, dari kekekalan Allah Bapa ada dalam relasi saling mengasihi satu akan yang lain dengan Allah Anak.

Ketika Firman Tuhan mengatakan God is love maka asumsinya adalah Allah itu eksis di dalam tiga pribadi Allah Tritunggal. Bukan hanya satu, seperti dalam agama Islam yang menyatakan simple monoteisme. Ketika hanya ada satu allah bagaimana bisa dikatakan dia adalah allah yang kasih. Apa artinya allah itu kasih kalau allah hanya seorang diri, karena kasih itu membutuhkan obyek untuk dikasihi. Bagaimana Allah adalah kasih kalau sebelum manusia dan dunia diciptakan, sebelum segala sesuatu ada, tidak ada pribadi lain yang boleh dikasihi. Alkitab mengatakan bahwa dari kekekalan sampai kekekalan Allah adalah bukan simple monoteisme, tetapi complex monoteisme. Kita percaya Allah itu satu tetapi Dia hadir di dalam tiga pribadi. Allah Bapa bukanlah Allah Anak, Allah Anak bukanlah Allah Roh Kudus, Allah Roh Kudus bukanlah Allah Bapa. Allah Tritunggal hadir dari kekekalan sampai kekekalan. Ketika dikatakan God is love maka asumsinya adalah Allah Tritunggal dalam relasi mengasihi satu sama yang lain, dengan kasih yang kekal dan sempurna.

Yoh 3:16 juga menegaskan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat yang terkenal ini juga mengasumsikan kasih Bapa kepada Anak itu begitu besar. Seberapa besar kasih Allah kepada dunia? Besar sekali, tetapi seberapa besar? maka Alkitab menyatakannya dengan mengatakan bahwa Bapa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Artinya kasih Allah kepada Anak itu begitu besar.

Hal yang sama juga Paulus katakan dalam Roma 8:32 bahwa Bapa tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi Bapa memberikannya kepada kita, bagaimana mungkin Bapa tidak memberikan segala sesuatu bersama-sama dengan Anak-Nya. Artinya Bapa telah memberikan yang terbaik, yang termahal bagi kita. Seberapa besar kasih Bapa dalam Roma 8 ini juga mengasumsikan kasih Bapa yang memberikan Anak-Nya yang terbaik itu kepada kita. Ada seorang memberi contoh berkaitan dengan Roma 8 itu seperti seorang ayah yang memberi Ferrari yang berharga ratusan ribu dollar kepada anak-nya, apakah ayahnya tidak memberi sepuluh dollar untuk parkir di kota?

Kasih Bapa kepada Anak juga dinyatakan secara eksplisit, ketika Yesus dibaptis. Ada suara dari surga yang berkata (Mat 3:17) “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Juga dalam peristiwa transfigurasi di mana Yesus dimuliakan di atas gunung, juga terdengar suara dari surga yang berkata (Luk 9:35) “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.“

Kasih Bapa kepada Anak adalah kasih yang sempurna, yang begitu penuh, seluruh hati Bapa ada di dalam hati Anak. Bapa berkenan dan hati Bapa begitu mengasihi Anak-Nya yang tunggal itu. Sehingga ketika kita melihat bahwa ketika Yesus berkata dalam Yoh 15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” biarlah ini membuat kita semakin kagum dan sadar betapa besar kasih Tuhan kepada kita.  

Oh how He loves you and me, He gave His live, what more could He give?

Oh how He loves you, oh how He loves me, Oh how He loves you and me.

Seorang teolog besar, Karl Barth, suatu kali diwawancara, setelah dia menulis begitu banyak buku, mengajar begitu lama, dari semuanya yang kau tulis itu sebenarnya kebenaran apa yang paling penting? Langsung dia menjawab dengan spontan bahwa kebenaran yang paling penting yang dia pelajari dan alami adalah Jesus loves me this I know, for the Bible tells me so. Begitu sederhana tetapi begitu dalam. Biarlah kita menyadari begitu besarnya kasih Kristus kepada kita seperti Bapa mengasihi Anak.

Alkitab juga menyatakan begitu besar kasih Bapa kepada kita. Yoh 17:23 mengatakan “Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” In some sense, kita bisa mengerti bahwa kasih Bapa kepada kita itu dimediasi oleh Kristus. Kristus adalah mediator kasih Bapa kepada kita. Kita bisa mengerti ini melalui metafora pokok anggur, bahwa Yesus adalah pokok anggur itu dan Bapa adalah pengusahanya. Bapa sebagai pemilik pokok anggur itu, pasti menginginkan pokok anggur itu untuk berbuat banyak, dan tentu juga ranting-rantingnya (yaitu kita) untuk berbuah banyak juga. Bapa pasti sangat mengasihi pokok anggur itu dengan memberi pupuk dlsb, supaya berbuah banyak dan juga supaya kita sebagai ranting-rantingya berbuah banyak dan mengalami kasih Bapa sepanjang kita menempel kepada pokok anggur itu. Sepanjang kita ada di dalam Kristus, kita akan menerima nutrisi, air yang diberikan oleh pengusaha pohon anggur itu melalui pokok anggur itu, supaya ranting-ranting itu berbuah banyak. Kita menerima kasih Bapa melalui Kristus yang mengasihi kita. Karena itu biarlah kita terus tinggal dan bersandar kepada Kristus; menyadari bahwa di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

 2. Tinggal di dalam Kristus melalui Ketaatan kepada Kristus

Tinggal di dalam Kristus adalah melalui ketaatan kita kepada Kristus. Dalam Yoh 15:10 Yesus mengatakan “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku (Kristus) menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Saya teringat pada pendeta Amin Cung, seorang pendeta GRII yang mengalami sakit kanker nasofaring yang sempat sembuh sebentar dan kemudian kambuh lagi. Sakit kanker nasofaring, minum susu seperti menelan pecahan kaca. Saya sempat tinggal dalam satu rumah bersama keluarga Amin Cung selama dua minggu, dalam masa transisi saya sebelum saya pindah ke Melbourne. Saya mulai merasakan sesuatu, karena salah satu bentuk pelayanan mereka adalah mengunjungi orang-orang sakit. Karena pendeta Amin Cung sudah pernah sakit kanker, sewaktu mengunjungi orang yang sakit kanker, mereka sangat terhibur. Karena pak Amin Cung pernah sendiri mengalami segala kesakitan itu, penghiburan itu menjadi kekuatan yang besar bagi mereka yang sakit kanker. 

Ini mirip seperti yang Yesus katakan (Yoh 15:10) “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal dalam kasih-Nya.” Tuhan Yesus memerintahkan itu kepada kita kita bukan hanya sebagai otoritas, tetapi Dia sendiri mentaati Bapa, Dia sendiri belajar melalui penderitaan. Ibrani (lihat Ibrani 5) mengatakan Kristus sebagai suatu pribadi yang mengalami dan terus tinggal di dalam kasih Bapa melalui ketaatan-Nya, kesulitan dan penderitaan yang tidak mudah dengan hidup di tengah-tengah dunia yang berdosa. Dia terus taat ditengah semua itu, melawan orang-orang yang berdosa, melawan godaan setan. Dia terus taat sampai mati, mati di atas kayu salib. Kristus sendiri belajar sebagai Anak Bapa yang tunggal itu, Dia belajar melalui penderitaan-Nya.

Karena itu kita dipanggil untuk tinggal di dalam kasih Kristus melalui ketaatan kita. Ketaatan yang tentu tidak mudah, memerlukan banyak sacrifice, tetapi seperti Kristus, Dia terus taat karena mengetahui Bapa sangat mengasihi Dia, dan Dia ingin tinggal di dalam kasih Bapa-Nya melalui ketaatan-Nya kepada Bapa.

Tuhan Yesus juga memanggil kita untuk belajar taat melalui segala penderitaan kita dalam melakukan kehendak Tuhan, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Yesus mengatakan (Yoh 14:15) “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Tetapi dalam bagian ini Yesus mengatakan jikalau kamu menuruti perintah-Ku kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku. Sehingga ketaatan ini mempunyai dua fungsi: ketika kita taat kepada Kristus, ini menjadi bukti bahwa kita mengasihi Kristus. (Yoh 14:15); ketika kita taat kepada Kristus, itu menjadi sarana bagi kita untuk terus tinggal di dalam kasih Kristus.

Ketika kita mentaati Tuhan, kita bukan hanya taat sekali, dua kali, atau tiga kali, tetapi kita terus taat, melakukan kehendak Tuhan, mentaati Kristus dalam segala tantangan dan penderitaan. Semuanya itu mendorong kita, karena kita tahu bahwa Dia terlebih dahulu sudah mengasihi kita, sehingga kita boleh taat mengasihi Tuhan, melakukan kehendak-Nya dan terus tinggal di dalam kasih-Nya itu.

Ketika kita taat kepada Tuhan kita akan mengalami kesukaan yang berlimpah-limpah yang Tuhan janjikan kepada kita. Setiap orang yang taat kepada Tuhan karena kasih-Nya, akan makin mengalami kasih Kristus. Kita akan mengalami pembentukan yang indah yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita supaya kita semakin serupa dengan Kristus.

Hampir tidak ada orang yang mengatakan bahwa waktu-waktu di dalam hidupku yang paling penting, di mana Tuhan membentukku dengan begitu dalamnya, begitu indah adalah saat-saat di mana aku santai, lancar, dan aman. Kalau kita membaca sejarah, maka kita tahu waktu-waktu pembentukan karakter yang paling dalam hampir selalu terjadi dalam saat-saat kesulitan, penderitaan dan pergumulan yang berat. Di situlah tangan Tuhan bekerja membentuk kita, melalui ketaatan kita, kita makin mengalami anugerah-Nya, makin mengalami kasih-Nya, makin mengalami pertolongan-Nya, makin mengalami kehadiran-Nya di dalam kehidupan kita.

Charles Spurgeon mengatakan “They who die in the sea of affliction will bring up real pearl”, mereka yang menyelam di dalam lautan penderitaan akan membawa mutiara yang berharga, yang tidak bisa didapatkan tanpa ketaatan. Kita tahu waktu kita taat kepada Tuhan, akan ada kesulitan, penderitaan, dan itu akan membawa hal yang sangat berharga di dalam kehidupan kita.

3. Ada Kesukaan yang Penuh

Ketika kita tinggal di dalam kasih Kristus artinya sukacita Kristus ada di dalam kita. Kesukaan yang penuh seperti yang dinyatakan dalam Yoh 15:11 “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Tuhan Yesus berbicara tentang sukacita yang tidak dikenal dunia. Ini adalah sukacita dari Kristus, sukacita di dalam melakukan kehendak Bapa, sukacita dalam menyenangkan hati Bapa, karena Kristus sangat mengasihi Bapa, dan Bapa sangat mengasihi Kristus. Sehingga semua hal yang ingin Kristus kerjakan adalah untuk menyenangkan Bapa, ingin mentaati Bapa. Ketika Dia mentaati Bapa maka sukacita Bapa diberikan kepada Dia, dan dengan demikian Tuhan ingin sukacita Kristus juga diberikan kepada kita.

Tuhan bukan hanya memberikan apa yang kita inginkan sehingga kita bersuka cita karena menerimanya. Tuhan di sini mengatakan sukacita-Ku akan kuberikan kepadamu. Ini bukan sukacita-mu, ini pertama-tama adalah sukacita-Ku, sehingga di sini artinya adalah Tuhan bukan hanya memberikan apa yang kita inginkan sehingga kita bersukacita tetapi Tuhan mengubah hati kita sehingga kita bersukacita dengan hati yang baru, sehingga kita boleh mengalami kesukaan yang melampaui segala akal. Kesukaan yang tidak dikenal dunia ini, kesukaan dalam melakukan kehendak Tuhan. Kesukaan karena menyenangkan hati Bapa, kesukaan karena Bapa disukakan oleh seluruh perbuatan kita; dan dengan demikian sukacita kita menjadi penuh dan sempurna.

Kristus ingin sukacita-Nya yang berlimpah-limpah itu juga ada di setiap murid-Nya. Tuhan bukan sekedar memberikan sesuatu yang paling kita inginkan, tetapi Tuhan memberi hati yang baru sehingga apa yang paling engkau inginkan adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih indah, lebih mulia. Dia kemudian memberikan hal itu kepada kita supaya sukacita kita menjadi sempurna.

Semua orang mencari suka cita, apapun alasannya. Blaise Paskal mengatakan kaki tidak akan melangkah tanpa mencari sukacita, kesenangan, kegembiraan. Bahkan orang yang gantung diri pun tidak terlepas dari motivasi ini. Orang yang bunuh diri adalah karena dia ingin lepas dari keadaan yang susah, tidak ada jalan keluar. Paling tidak dia ingin menghindari keputusannya, dan secara tidak sadar dia ingin mendapatkan sukacita yang dia tidak dapatkan.  

Ada banyak orang yang bersukacita karena mendapatkan uang, menikmati seks atau mendapat kuasa yang besar, dihormati oleh orang lain, mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Tetapi tidak ada orang yang di luar Kristus yang mengatakan sukacitaku adalah di dalam Tuhan, di dalam melakukan kehendak-Nya, di dalam mentaati-Nya. Tetapi justru merekalah anak-anak Tuhan yang sejati, yang tinggal di dalam kasih Kristus.

Mereka akan taat, tahu ada kesulitan ada pengorbanan tetapi sekaligus menyadari seperti Pemazmur nyatakan (lihat Mazmur 16) bahwa di hadapan Allah ada sukacita yang berlimpah-limpah, dan di sebelah kanannya ada nikmat senantiasa. Pemazmur sadar sekali bahwa kesukaan yang berlimpah-limpah itu hanya ada di hadapan Tuhan, tidak ada di tempat lain. Kesukaan yang berlimpah-limpah, joy to the full. Seberapa banyak berlimpahnya? Penuh berlimpah. Seberapa lama kesukaan itu? Selama-lamanya. Ada orang yang bersuka cita, senang sekali, tetapi cuma satu menit saja. Ada orang mungkin cukup senang selama berpuluh-puluh tahun, tetapi tidak pernah penuh suka citanya, dan hanya beberapa puluh tahun saja. Tetapi Alkitab mengatakan di hadapan Tuhan, ada sukacita berlimpah-limpah, dan di tangan kanan-Nya ada nikmat selamanya.  

Biarlah kita menjadi anak-anak Tuhan yang tinggal di dalam Kristus dan tinggal di dalam kasih-Nya. Tuhan menginginkan kita mengalami sukacita yang seperti demikian. Sekali lagi bukan sukacita tanpa penderitaan, tetapi justru seringkali adalah suka cita di tengah-tengah penderitaan. Bukan sukacita di tengah segala kelancaran hidup kita, tetapi seringkali sukacita di dalam kelemahan kita. Paulus mengatakan (lihat 2 Kor 12:10) ketika aku lemah maka aku kuat. Kita harus bersandar kepada Tuhan, melakukan kehendak Tuhan, dan berdoa.

Berdoa itu tidak mudah, memang berdoa itu adalah sesuatu yang sangat gampang tetapi sekaligus sangat-sangat sulit. Tidak ada orang Kristen, tidak ada hamba Tuhan, tidak ada missionaris, tidak ada orang-orang yang sudah Tuhan pakai secara luar biasa di dalam dunia ini, yang tidak pernah bergumul di dalam doa. Doa seperti simple sekali, berseru, berbicara kepada Tuhan, tetapi seringkali itulah yang pertama-tama kita tinggalkan ketika kita sibuk dlsb.

Biarlah kita boleh bersandar, mentaati Tuhan, dan ketika mentaati Tuhan, kita akan mengalami suka cita di dalam Tuhan. Saya mengharapkan saudara mengalami sweet hours of prayer, waktu-waktu berdoa yang seringkali di dalam pergumulan yang berat, tetapi justru menjadi saat-saat yang paling indah di dalam hidup kita. Biarlah kita beseru dan mengalami intimasi yang indah di dalam Tuhan.

David Livingstone, adalah seorang missionaris yang besar, yang mengabarkan Injil di Afrika. Dia mengalami kesulitan dan penderitaan. Dia dianiaya berkali-kali, mau dibunuh, beberapa kali diterkam oleh singa, banyak luka-luka di tubuhnya. Tetapi dia terus melayani Tuhan, memberitakan Injil di Afrika, sehingga pelayanannya Africa Inland Mission menjadi salah satu pelayanan terbesar yang Tuhan pakai. Suatu kali dia datang menceritakan pengalamannya kepada para mahasiswa di Inggris. Dia mengatakan suatu kalimat ‘orang-orang banyak mengatakan bahwa saya begitu banyak menderita dan berkorban untuk pekerjaan Tuhan’. Memang dia mengalami banyak kesulitan dan tantangan, namun dia sama sekali tidak merasa berkorban apapun, karena di tengah segalanya itu dia mengalami bagaimana Tuhan memimpin. Di tengah segala kesulitan itu dia mengalami anugerah Tuhan, dia mengalami penghiburan Tuhan. Tuhan menyertai dan anugerah-Nya begitu nyata di dalam kehidupannya. David Livingstone menyatakan begitu banyak anugerah, kebesaran, kebaikan, cinta kasih, pemeliharaan Tuhan, kehadiranNya yang terus membentuk, memberikan kekuatan, maka dia mengatakan “I have not sacrificed at all”. Dia mengatakan aku tidak pernah berkorban apapun.

Namun itu bukan berarti David Livingstone tidak pernah berkorban, kita tahu dia berkorban banyak hal demi mentaati panggilan Kristus di dalam hidupnya. Tetapi dia mengatakan “I have not sacrificed at all”, karena kasih Tuhan, anugerah Tuhan, penyertaan Tuhan, sukacita dari Tuhan, itu melampaui segala pengorbanan yang dia lakukan.

Seperti itulah orang-orang yang di dalam Tuhan, yang tinggal di dalam kasih Kristus, belajar taat di tengah kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Tuhan mengatakan “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya