Kematian karena Dosa

Tanggal: 
08 January 2012
Pengkotbah: 
Pdt. Budy Setiawan
Nats: 
Romans 5 : 12 - 19
AttachmentSize
8 Jan 2012.mp37.24 MB

Di dalam struktur kitab Roma hari ini, kita melihat adanya “intervensi” dari Paulus, sebagai sesuatu yang “di dalam kurung”. Dalam ayat ke 12, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ...” Paulus tidak menyelesaikan perbandingan itu sampai ayat ke 18: ada perkatan “... demikian pula ...” yang menunjuk ke ayat 12.  Banyak penafsir  beranggapan bahwa ayat 13-14 adalah penjelasan atau “di dalam kurung” dari ayat 12; dan kemudian ayat 15-17 adalah penjelasan dari ayat 13-14, atau “di dalam kurung yang ada di dalam kurung” dari ayat ke 12.

Ayat 12 mengatakan bahwa oleh karena dosa satu orang maka maut telah menjalar ke semua orang. Argumentasi Paulus di sini, bukan karena dosa perorangan maka orang bisa mati, tetapi karena di  dalam kaitan dengan Adam maka dosa telah menjalar ke seluruh dunia. Bukan karena setiap orang telah berbuat dosa maka manusia mengalami kematian – bahkan bayi-pun bisa mati walaupun belum berbuat dosa – tetapi dalam kaitannya dengan Adam.

Di dalam Teologi Reformed ini dikenal sebagai Original sin, atau dosa asal. Original sin tidak bisa diterjemahkan sebagai dosa keturunan, karena jika dimengerti sebagai sesuatu yang diturunkan oleh orang tua kepada anak, berarti ada unsur dosa di dalam hubungan seks, maka hal ini tidak benar. Dosa Asal berasal dari Adam, bukan dari orang-tua. Ketika Adam sebagai wakil/representatif dari semua manusia dia berdosa maka semua orang menjadi berdosa di dalam Adam dan mengalami kematian.

Original sin menghasilkan actual sin atau perbuatan dosa. Dua hal ini harus dibedakan walaupun tidak bisa dipisahkan. Sering kita menganggap dosa itu sebagai suatu perbuatan, pikiran atau perkataan. Kita bisa menggambarkan original sin dan actual sin sebagai pohon dan buah. Original sin sebagai pohon, karena pohon-nya jelek maka buahnya - actual sin, jelek juga. Perbandingan lain adalah dengan istilah  being dan doing. Being menunjuk tentang status manusia atau siapa saya, sedangkan apa yang kita lakukan adalah doing. Being dan doing tidak boleh dipisahkan. Sebagai contoh, perkataan (doing) yang dikatakan berulang-ulang kepada seseorang (seperti “kamu bodoh”) bisa menjadi persepsi diri (being) orang itu.

Ketika Paulus mengatakan di dalam Adam kita  berdosa, Paulus berbicara tentang being, diri kita  atau status kita sebagai orang berdosa. Ayat 15-19 mengkonfirmasi hal ini. Di dalam Ayat 15b: “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut ...”; dalam ayat 17: “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu...”; dalam ayat 18: “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman...”; dalam ayat 19: “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa ...”. Perkataan “Satu orang” tersebut menunjuk kepada Adam.

Kita diselamatkan bukan karena perbuatan kita. Ketika Kristus mati, pertama-tama yang Dia bereskan adalah being/ pohon-nya manusia. Dia pertama-tama memberi hidup yang baru, bukan memberi perbuatan yang baru. Setelah Yesus memberikan hidup yang baru, maka manusia dapat melakukan perbuatan yang baru.

Sebagai contoh, kalau kita tidak membedakan antara being dengan doing atau “pohon” dengan “buah” kita akan bingung dalam menjawab pertanyaan “Apakah kita sudah diselamatkan?”, “Apakah kita pasti masuk surga?”. Jawaban kita biasanya menunjukkan keraguan, seperti “belum tentu” atau “seharusnya” masuk surga. Mengapa demikian? Biasanya alasan keraguan tersebut adalah perbuatan yang masih kita lakukan seperti “masih suka menyontek” atau “masih sering mempunyai pikiran yang jelek”; kita tahu bahwa masih berbuat dosa, tetapi tetap melakukannya. Kita dapat juga jatuh ke ekstrim yang lain, dengan mengatakan “kalau begitu kita boleh tetap berbuat dosa, karena asalkan sudah percaya, maka pasti diselamatkan”. Hal ini juga tidak benar. Memang Alkitab tidak mudah dimengerti. Tetapi pertama-tama yang Tuhan kerjakan bukan doing dan perbuatan kita masih bisa berdosa. Anak-anak Tuhan harus bergumul dan gelisah ketika melakukan perbuatan dosa.
 
Perbuatan dosa itu tidak membuat kita tidak diselamatkan, karena keselamatan kita bukan didapat dari perbuatan, tetapi oleh iman yang telah dianugerahkan oleh Kristus kepada kita. Di dalam 1 Yoh 1:9, “jika kita mengaku dosa kita, … Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”. Kalau kita benar-benar mengaku dosa dan percaya, hal ini terjadi sebenarnya karena being kita sudah diperbaharui. Hidup yang baru akan tidak puas akan kehidupan yang masih berdosa. Hidup yang baru akan terus berjuang dan memiliki kerinduan untuk melakukan kehendak Tuhan. Meskipun memang kita bisa tertidur di dalam keadaan kita sehari-hari,  walaupun sudah memiliki kehidupan yang baru. Maka dari itu, kita harus sadar dan mulai bergumul, berjuang untuk meninggalkan perbuatan dosa. Ketika kesadaran ini ada di dalam diri kita, ini justru menjadi tanda bahwa ada being yang baru, ada manusia baru di dalam kita. Sebagai orang Kristen yang sejati, kita tidak boleh puas dengan perbuatan-perbuatan kita sekarang, dan harus terus maju melakukan kehendak Tuhan, karena sadar selama masih di dunia ini, kita belum sempurna.

Paulus-pun demikian, di akhir hidupnya dia mengatakan bahwa di antara orang berdosa dialah yang paling berdosa. Dia mengatakan demikian bukan menunjuk ke masa lalu hidupnya waktu dia menganiaya jemaat Tuhan, namun saat setelah dia melayani Tuhan berpuluh-puluh tahun dan bahkan dianiaya demi nama Tuhan. Paulus sadar sekali akan dosanya dan ingin maju lagi untuk menjadi sempurna di hadapan Tuhan.

Kembali ke ayat 13 dan 14:  (ayat 13) “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.”  (ayat 14) “Sungguhpun demikan maut telah berkuasa dari Zaman Adam sampai zaman Musa, juga atas mereka yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah di buat oleh Adam ...”. Di dalam ke dua ayat ini kita melihat sekali lagi bahwa dosa itu bukan masalah perbuatan. Memang dosa sering kita artikan sebagai perbuatan, bahkan Alkitab sendiri mengatakan dosa sebagai perbuatan yang melanggar hukum Taurat. Tetapi Paulus mau menyatakan bahwa dosa itu sudah ada sebelum hukum Taurat itu ada. Kalau dosa didefinisikan kalau dosa itu adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat, bagaimana dengan sebelum hukum Taurat itu ada, dari zaman Adam sampai sebelum Musa datang.

Hukum Taurat seperti x-ray atau CT-scan yang mengkonfirmasi bahwa seseorang telah mempunyai penyakit kanker. Orang itu sakit kanker sebelum atau sesudah di CT-scan? Tentu saja, sebelum di CT-scan. Perbedaanya adalah sebelum di CT-scan orang itu belum tahu bahwa dia sudah berpenyakit kanker. Ketika hukum Taurat datang, Taurat membongkar hati manusia, seperti CT-scan, memberi tahu bahwa manusia sudah berdosa. Hukum Taurat mengkonfirmasi apa yang telah ada di hati manusia, yang mengakui bahwa hukum Taurat itu benar dan manusia telah melanggarnya.

Ayat 13 mengatakan, sebelum hukum Taurat ada, dosa itu ada, karena Adam. Tetapi dosa tidak diperhitungkan atau diketahui sebelum hukum Taurat. Ayat 14 menegaskan manusia telah berdosa sebelum hukum Taurat ada, karena manusia sudah berdosa di dalam kaitannya dengan Adam yang telah berdosa. Buktinya adalah maut sudah ada sejak jaman Adam, manusia semua mati sejak jaman Adam, karena upah dosa adalah maut.

Satu bagian yg menggugah kita bahwa semua orang mengalami kematian adalah dari Kejadian pasal 5 ayat 4-31. Di dalam ayat-ayat ini, ada perkataan ”... lalu ia mati ...” yang mirip dan dikatakan berulang-ulang kali sepanjang keturunan Adam. Ini memperingatkan kita bahwa manusia sudah mati di dalam kaitannya dengan Adam. Kematian ini terus mengikuti manusia sampai sekarang, bisa datang mendadak dan tidak bisa dihindari.

Frans Borchenio seorang ahli sejarah menyelidiki adanya tiga sikap budaya menghadapi kematian:

1)    Death-accepting culture; menerima kematian, seperti di dalam budaya Yunani. Sebagai contoh Socrates meminum racun untuk mempertahankan pendapatnya dan berbicara tentang immortality of soul (jiwa yang kekal), dan “tubuh itu adalah penjara jiwa”. Dia dan murid-muridnya dapat menerima kematian namun tidak memilki dasar pengertian tentang ini dan tidak mengetahui kemana jiwa itu pergi setelah kematian.
2)    Death-denying culture; budaya yang menyangkal atau mau melarikan diri dari kematian. Ini jelas di zaman sekarang dengan segala pengobatan untuk memperpanjang kehidupan dan juga di dalam kebudayaan Cina, di mana kematian adalah suatu hal yang ditabukan
3)    Death-defying culture; dari Judaisme-Kristen yang menghadapi dan mengalahkan kematian. Paul berkata (1 Kor 15:55b) “Hai maut, di manakah sengatmu.”. Di dalam Adam kematian masuk ke semua orang, tetapi di dalam Kristus ada jawaban akan keselamatan dan hidup yang kekal.

Horatius Bonar seorang Teolog puritan, mengatakan, “Adam pertama mati dan kita mati di dalam dia. Adam kedua (Kristus) mati dan kita hidup di dalam Dia. Kubur Adam pertama memproklamirkan kematian semata. Kubur Adam kedua mewartakan hidup, “Akulah kebangkitan dan hidup” - Yoh 11:25.
 
Satu kisah dari Ravi Zacharias, suatu sore dia bertemu dengan seorang muda di tengah jalan yang sudah agak mabuk. Ravi mengajak dia untuk minum kopi dan mulai menginjili dia, sampai dia sangat tersentuh sekali. Ravi menantang anak muda itu, namun pemuda tersebut diam sejenak dan berkata “besok pagi saya akan menerima Yesus sebagai juru selamat”. Tetapi mengapa jawabannya adalah “besok pagi”, ternyata pemuda itu sudah berjanji dengan teman-temannya untuk berpesta pora di suatu pub. Keesokan harinya koran memberitakan bahwa pub tersebut kebakaran dan pemuda tersebut termasuk yang mati malam itu, dan tidak ada kesempatan lagi.

Bagi setiap kita, kesadaran manusia mati karena dosa pertama-tama di dalam Adam yang kemudian berbuah di dalam hidup kita yang berbuat dosa; dan hanya di dalam Kristus ada pengharapan. Kristus yang mati untuk menggantikan kita, dan berkata (Mat 11:28) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat” -- letih-lesu dan berbeban berat karena dosa -- “Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Denny Chandra